Tahu ngga kalau kebanyakan karyawan saat ini masih terjebak dengan tata kelola keuangan hanya untuk dinikmasti hari ini. "Saya dapat ua...
Tahu ngga kalau kebanyakan karyawan saat ini masih terjebak dengan tata kelola keuangan hanya untuk dinikmasti hari ini. "Saya dapat uang dan saya nikmati dengan berbelanja apapun yang ingin saya beli" kata beberapa teman yang saya tanya tentang persepsi mereka tentang pekerjaan dan uang yang didapat saat ini dari gaji perusahaan. Jawaban ini membuat saya kaget dan pastinya berfikir gimana sebenarnya pemahaman dari karyawan terhadap masa depan dimasa pensiun.
Kesimpulan yang saya dapatkan tersebut memberikan pelajaran berharga karena sebagai peneliti dan juga praktisi bisnis dengan kapasitas sebagai pensiunpreneur, sangat menyayangkan pemahaman yang dimiliki karyawan tersebut. Kebayang dong apa yang akan dihadapi oleh para karyawan dimasa mereka masih berstatus karyawan dan bahkan ketika berstatus pensiun yang pastinya sudah tidak dapat uang lagi gaji perusahaan.
Masih ingat difikiran ini ketika karyawan yang memasuki masa pensiun, sebagian besar tidak siap secara keuangan dan malah memiliki untuk "memperpanjang" masa kerja dengan mencari kerjaan baru di perusahan lain ataupun bekerja dengan status bukan karyawan seperti waktu dulu diperusahaan yang sama. Hmmm.... bisa dibayangkan dong bagaimana fisik dan psikologis dari orang-orang yang berstatus karyawan tetapi ketika sejatinya mereka berstatus karyawan, tetapi tidak siap.
Nah, waktunya sekarang karyawan untuk memiliki mindset yang berbeda dengan kebanyakan orang yang melihat bekerja itu dapatkan uang dan digunakan untuk membeli aneka produk yang diinginkan karena ingin terlihat waw dimata orang banyak. Ingat, hidup teman-teman tidak hanya seperti itu dan sampai usia 55 tahun.
Melihat kondisi tersebut, sudah waktunya karyawan memiliki money mindset untuk mempersiapkan masa depan, baik ketika berstatus karyawan apalagi berstatus sebagai pensiun yang menuntut kondisi keuangan untuk kebutuhan yang bisa jadi meningkat dibandingkan berstatus karyawan khususnya yang berhubungan dengan kesehatan dan keperluan pendidikan anak, pernikahan anak serta kebutuhan untuk ibadah.
Disinilah rasanya peran perusahaan juga sangat diperlukan untuk membantu karyawan bisa memenuhi kebutuhan kompetensi yang berhubungan dengan tata kelola keuangan khususnya kelola uang gaji, insentif, tunjangan dan bonus. Hal ini akan berdampak kepada kontribusi setiap karyawan terhadap perusahaan nantinya dimana mereka akan fokus bekerja dan tidak terkena dampak dari hutang, baik melalui pinjol ataupun paylater.
Salah satu program stratejik yang menjadi perhatian Departemen Sumber Daya Manusia (HRD) adalah pelatihan untuk peningkatan pengetahuan, keterampilan serta sikap mereka terhadap keuangan pribadi alias personal financial literacy. Hal ini perlu dilakukan pada awal karyawan masuk kerja dan dikembangkan dalam pelatihan tiap tahun serta ditutup pada masa karyawan akan memasuki masa pensiun.

